Saturday, January 5, 2008

Siwa Ratri

Hari Raya Siwa Ratri

Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa terdiri dari dua unsur yang utama yaitu purusa dan pradana atau unsur kejiwaan dan unsur kebendaan.

Purusa adalah jiwa yang penuh kesadaran karena bersumber dari atman. Atman berasal dari Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Pradana adalah unsur material yang menjadi dasar jasmani terdiri dari lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara dan angkasa). Karena itu Bhagavadgita menyebutkan, manusia memiliki dua kecenderungan yaitu kecenderungan kede-waan atau dewa sampad dan kecenderungan keraksasaan atau asura sampad. Kedua kecenderungan itu bisa silih berganti muncul setiap saat menguasai manusia.

Jika kecenderungan kedewaan yang menguasai manusia, ma-ka segala perbuatannya selalu berdasarkan pada sreya karma. Sreya karma mengarahkan perbuatan yang selalu berdasarkan dharma, karena didorong oleh kesadaran. Kesadaran itu adalah penguasaan indria oleh pikiran dan pikiran oleh budhi yang disinari pancaran suci atman. Sebaliknya, kalau kecenderungan keraksasan yang menguasai diri manusia, maka segala perbuatan manusia selalu didasarkan oleh wisaya karma. Wisaya karma mengarahkan manusia berbuat di luar dharma bahkan bertentangan dengan dharma. Perbuatan itu semata-semata didorong wisaya atau hawa nafsu semata.

Sreya karma mengarahkan perbuatan yang disebut subha karma (perbuatan baik) dan wisaya karma mengarahkan perbuatan yang disebut asubha karma (perbuatan yang penuh dosa). Manusia tentu harus menghindari perbuatan yang penuh dosa. Untuk mengetahui perbuatan dosa dan perbuatan yang sesuai dengan dharma dapat dilihat contohnya dalam Itihasa dan Purana. Dalam Mahabharata, Pandawa di bawah tuntunan Sri Krishna selalu berbuat dengan penuh pertimbangan dharma. Sebaliknya Korawa, saudara sepupu Pandawa, berbuat atas dasar dorongan hawa nafsu keduniawian saja. Contoh perbuatan yang baik dan buruk, juga bisa kita temukan dalam Ramayana. Sri Rama selalu bertindak di atas pertimbangan dharma. Sedangkan Rahwana selalu bertindak berdasarkan doro-ngan hawa nafsu yang menyimpang sama sekali dengan dharma.

Berbuat yang selalu berdasarkan dharma tidak segampang membalik telapak tangan. Tantangan atau godaan acapkali menghadang, sehingga untuk melakukan kebajikan itu, harus berani menanggung derita, bahkan mempertaruhkan nyawa. Satu hal yang perlu diingat adalah, agar dapat selalu berbuat berdasarkan dharma, maka harus selalu memelihara kesadarannya.

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memu-satkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut "malam kesadaran" atau "malam pejagraan", bukan "malam penebusan dosa" sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekauatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri se-sungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa dise-butkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Sumber Ajaran Siwa Ratri

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah pendeta di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak 1966, Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Dalam Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebutlah, dikisahkanlah seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat kesa-darannya bangkit, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

Dalam Skanda Purana dituturkan percakapan seseorang bernama Lomasa dengan para rsi. Lomasa menuturkan kejahatan orang bernama Canda yang suka membunuh, dari membunuh binatang sampai brahmana. Namun setelah melakukan tapa brata Siwa Ratri, Canda yang jahat itu akhirnya sadar akan segala perbuatan dosanya dan baru memahami kebenaran. Canda akhirnya menjadi orang suci dan bisa bersatu dengan Tuhan. Dalam Skanda Purana, juga disebutkan tentang tata-cara dan asal-mulanya dilangsungkan upacara Siwa Ratri tersebut.

Sumber Sanskerta yang lain, yaitu Garuda Purana memaparkan upacara Siwa Ratri lebih singkat. Di situ dituturkan tentang Sang-hyang Siwa yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari itrinya (saktinya) yaitu Dewi Parwati. Dewi Parwati bertanya, di antara pelaksanaan brata, apa yang paling utama dilaksanakan agar men-capai kesadaran tinggi tentang nilai hidup Ketuhanan. Sanghyang Siwa menjawab, brata yang paling utama adalah brata Siwa Ratri. Sanghyang Siwa juga menjelaskan tenatang tata-cara brata Siwa Ratri tersebut.

Selain itu, dikisahkan pula seorang raja bernama Sundara Senaka yang berwatak jahat dan kasar. Raja yang disertai anjingnya selalu berburu ke hutan membunuh binatang. Selain itu, beliau juga suka menghamburkan hawa nafsu birahinya. Namun setelah melakukan brata Siwa Ratri, beliau sadar akan semua perbuatan dosanya. Kemudian sang raja meninggalkan kebiasaan buruknya itu, untuk kembali berpegang teguh ke jalan dharma.

Akan halnya dalam Padma Purana, brata Siwa Ratri termuat di bagian Uttarakanda. Di situ dikisahkan dialog Raja Dilipa dengan Rsi Wasistha. Rsi agung ini menjelaskan kepada Dilipa bahwa brata Siwa Ratri adalah brata yang sangat utama. Pelaksanaannya agar dilakukan pada bulan magha dan palguna. Dalam kitab ini dikisahkan seorang pemburu bernama Nisada yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Lubdhaka (dalam bahasa Sanskerta, lubdhaka artinya pemburu). Suatu hari, ketika Nisada berburu ke dalam hutan, ia kemalaman. Untuk menyelamatkan diri dari ancaman binatang buas, ia berlindung di atas pohon — yang kebetulan pohon bila. Di bawah pohon itu, ada sebuah telaga. Agar tidak ngantuk dan tertidur (jika tertidur tentu akan jatuh), Nisada memetik-metik daun pohon dan dijatuhkannya pada telaga. Kebetulan di telaga itu ada sebuah lingga Siwa yang terbuat dari kristal. Lingga itulah yang kena daun pohon. Lagi pula, malam itu adalah Purwani Tilem Kepitu atau sehari sebelum tilem ketujuh (tilem yang paling gelap di antara 12 tilem).

Sentuhan daun bila oleh Nisada dipandang sebagai persem-bahan oleh Sanghyang Siwa. Nisada dipandang telah sadar akan dosa-dosa yang pernah dibuatnya. Karena itu, Sanghyang Siwa menerima Nisada di Siwaloka, setelah badan jasmani pemburu itu meninggal. Para peneliti menyimpulkan, Padma Purana inilah yang menjadi sumber karya sastra yang memuat tentang Siwa Ratri yang tersebar di Indonesia.

Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan ber-dasarkan nista, madya, utama. Bentuk pelaksanaan pada tingkat nista dilaksanakan dengan jagra. Jagra artinya sadar. Kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melaksanakan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktivitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama, seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, "Nitya majapa maradina sarira," artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan dhyana dalam kitab Sara-samuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa.

Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan. Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakna simbolis untuk memacu, tumbuhnya kesadaran budhi yang sebenarnya.

Bentuk pelaksanaan Siwa Ratri pada tingkat madya adalah dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti "kembali suci." Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indria melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan. Latihan upawasa ini melahirkan sikap yang tidak tergantung pada makanan yang enak. Tubuh mem-butuhkan makanan yang sehat dan bergizi bukan yang enak.

Upawasa dilaksanakan dengan tidak boleh makan dan minum dari pagi hari saat matahari terbit pada panglong 14 sampai besoknya pada Tilem sasih Kepitu saat matahari terbenam. Upawaca Siwa Ratri dilaksanakan selama 36 jam penuh. Upawasa ini dapat dilakukan sampai bepergian ke luar rumah misalnya sambil titra yatra. Ini bedanya dengan upawasa Nyepi yang hanya dilakukan di tempat, tidak boleh bepergian.

Pelaksanaan brata Siwa Ratri yang paling utama bersumber dalam sebuah kekawin berbahasa Jawa Kuna yang bernama Siwa Rarti Kalpa buah cipta dari Mpu Tanakung.

Menurut Worsley, salah seorang peneliti sastra Jawa Kuna, bagian-bagian tertentu dari kekawin Siwa Ratri Kalpa merupakan terjemahan dari kitab Padma Purana Sansekertia.

Kakawin Siwa Ratri Kalpa ini di Bali terkenal dengan kakawin Lubdhaka. Kakawin itu merupakan terjemahan dari bagian Utarakanda dari Padma Purana. Dalam Padma Purana nama si pemburu adalah Nisada sedangkan dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa si pemburu bernama Lubdhaka. Nama Nisada tidak dijumpai dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Lubdhaka dalam Padma Purana bukanlah nama, tetapi artinya pemburu. Kalau boleh disimpulkan kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah terjemahan bebas dari Padma Purana kedalam sastra Jawa Kuna.

Kesimpulan ini menggambarkan bahwa para ilmuan, sastrawan dan rokhaniawan Hindu di masa lampau telah demikian mahir berbahasa Sansekerta. Tanpa pengetahuan dan penguasaan bahasa Sansekerta yang kuat tidak mungkin Mpu Tanakung mampu menyusun kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Tentang Mpu Tanakung, Prof. DR. Purbacaraka pernah menduga bahwa Mpu Tanakung adalah seorang pegawai yang hidup pada zaman Ken Arok memerintah di Jawa Timur. Purba-caraka juga berpendapat bahwa Mpu Tanakung mengarang kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah untuk mengambil hati raja Ken Arok orang yang pernah sebagai perampok dan merebut istri rajanya sendiri yaitu Tunggul Ametung.

Prof. Zoetmulder dan Prof. A. Teuw, keduanya peneliti sastra Jawa Kuna yang tersohor, mendapatkan kesimpulan yang amat berbeda dengan pendapat Prof. DR. Purbacaraka. Mpu Tanakung bukanlah seorang sastrawan yang hidup pada zaman Ken Arok. Mpu Tanakung adalah seorang Rakai yang hidup pada zaman Majapahit akhir, yaitu antara tahun 1466-1478 M. Itu berarti sekitar dua setengah abad setelah pemerintahan Raja Ken Arok. Ke-simpulan ini ditarik berdasarkan hasil penelitian "Waringin Pitu" yang berangka tahun 1447 M dan prasasti Pamintihan berangka tahun 1473 M.

Kedua prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Singawikrama yang mempunyai nama kecil Suraprabhawa. Nama Suraprabhawa inilah yang tercantum dalam menggala kekawin Siwa Ratri. Tujuan Mpu sebagai seorang yang suci atau pendeta mengarang kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah untuk menyebar luaskan ajaran brata Siwa Ratri sebagai ajaran Hindu yang amat utama. Tidaklah mungkin seorang Mpu yang suci menjilat sekali pun kepada rajanya sendiri.

Dalam tradisi Hindu orang suci seperti Mpu mendapat kedudukan yang sejajar dengan seorang raja dalam fungsi yang berbeda.

Oleh karena itu Empu Tanakung dapat diyakini seorang, tokoh agama yang menyebarkan ajaran suci agama Hindu termasuk ajaran Siwa Ratri.

Dapat dipastikan pula Empu Tanakung adalah seorang sastrawan spiritual yang ahli bahasa Sansekerta dan ahli bahasa Jawa Kuna. Kemahiran beliau dalam dua bahasa inilah yang menyebabkan beliau dapat dengan mudah mendalami tatwa-adyatmika yang terdapat dalam sastra-sastra Hindu seperti ajaran Siwa Ratri dalam Padma Purana.

Di Bali ajaran Siwa Ratri disebarkan dalam berbagai bentuk. Di Bali terdapat lontar yang menguraikan keutamaan brata Siwa Ratri seperti Geguritan Lubdhaka dan Lontar Lubdhaka Caritra. Kedua lontar itu terdapat dalam koleksi lontar Fak. Sastra Unud Denpasar. Di Gedung Kertya terdapat lontar Aji Brata yang juga menguraikan keutamaan brata Siwa Ratri.

Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.

Tata pelaksanaan brata Siwa Rarti telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984. Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.

Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari "Catur Dasi Krsna Paksa" bulan Magha yaitu panglong ping empat belas sasihkapitu.

Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan "kesadaran diri" (atutur ikang atma rijatinia). Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa, monabrata dan jagra.

Mona artinya berdiam diri tidak bicara. Mona artinya bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan me-lakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermaanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya "positif energi" untuk menggeser "parasit energi."

Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan, ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir bathin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista madya utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi ber-sungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

Thursday, November 1, 2007

Teman Sejati

Buat Teman
1. Sekurang-kurangnya ada 5 orang dalam dunia yang menyayangi Anda dan sanggup mati karena Anda.
2. Sekurang-kurangnya ada 15 orang dalam dunia ini yang menyayangi Anda dalam beberapa cara.
3. Sebab utama seseorang membenci Anda adalah karena dia ingin menjadi seperti Anda.
4. Senyuman dari Anda boleh membawa kebahagiaan kepada seseorang, walaupun dia tidak menyukai Anda.
5. Setiap malam ada seseorang mengingat Anda sebelum dia tidur.
6. Anda amat bermakna dalam hidup seseorang.
7. Kalau bukan karena Anda,seseorang itu tidak akan hidup bahagia.
8. Anda seorang yang istimewa dan unik.
9. Seseorang yang Anda tidak ketahui menyayangi Anda.
10. Apabila Anda membuat kesalahan yang sangat besar, ada hikmah dibaliknya.
11. Sekiranya Anda merasa d ipinggirkan, pikirkan dahulu; mungkin Anda yang meminggirkan mereka.
12. Apabila Anda berpikir tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan sesuatu yang Anda ingini, mungkin Anda tidak akan memperolehnya, tetapi jika Anda percaya pada diri sendiri lambat laun Anda akan memperolehnya.
13. Kenanglah segala pujian yang Anda terima. Lupakan segala caci maki.
14. Jangan takut untuk meluapkan perasaan Anda; Anda akan merasa senang bila seseorang mengetahuinya.
15. Sekiranya Anda punya sahabat baik, ambillah waktu untuk memberitahunya bahwa dia adalah yang terbaik. Hanya semenit diperlukan untuk mendapat sahabat baik, sejam untuk menghargainya, sehari untuk teman tetap paling setia. Walaupun punya harta yang banyak, teman tetap paling berharga.

Sunday, October 21, 2007

Dharma


Was ist Dharma?
Abgelegt unter Hinduismus

Nach hinduistischer Anschauung sind sowohl das Universum im Großen wie auch die Gesellschaft im Kleinen Teil eines geordneten Ganzen. Dieses manifestiert sich im Dharma, das man quasi als Weltgesetz bezeichnen kann. Es regelt nicht nur Rechte und Pflichten aller belebteb Wesen, sondern ist auch der Unterbau des Kastensystems.

Dharma (Sanskrit, m., धर्म, dharma) bezeichnet Sitte, Recht und Gesetz, ethische und religiöse Verpflichtungen, auch Ausdruck für Moral, im englischen oft einengend mit Religion übersetzt. Es handelt sich um einen der zentralen Begriffe des Hinduismus. Dharma, die hinduistische Ethik, bestimmt das Leben eines Hindu in vielfältiger Art und Weise. Persönliche Gewohnheiten, soziale und familiäre Bindungen, Fasten und Feste, religiöse Rituale, Gerechtigkeit und Moral, oft sogar die Regeln der persönlichen Hygiene und Essenszubereitung werden durch den Dharma bestimmt. Die Beachtung ist für Hindus nicht nur Voraussetzung für soziales Wohlergehen, sondern auch für die persönliche Entwicklung.
Von der Erfüllung des Dharma hängt das Karma ab, die aus den Taten des Individuums entstandenen Resultate (Ursache und Wirkung). Im Gegensatz zu anderen Weltreligionen haben Hindus jedoch keinen bestimmten, allgemein gültigen Kodex, keine bestimmte Sammlung von Gesetzen, die für alle gleichermaßen verbindlich wären, wie etwa die Zehn Gebote der Christen.

Woher kommt der Name Hinduismus?
Abgelegt unter Hinduismus

Der Name leitet sich von der iranischen Bezeichnung für den Fluss Indus her, ein Hinweis auf den Ursprung dieser Religion und die zentrale Bedeutung der Flüsse. Der Indus beherrscht den westlichen Teil Nordindiens.

Hinduismus ist eine alte Religion, nicht aber der Name Hindu. Die eigentlichen Namen sind sanaatana dharma (sanskrit:ewige disziplin), dass hier Disziplin und nicht Religion meint. Wirklicher Hinduismus kann nicht als Religion definiert verden . Weil der Hinduismus in erster Linie einen Rahmen darstellt, in welchem viele Philosophien mit konstruktivem Dialog Platz haben.

Quelle:
http://www.religion24.net/artikel/

Tag des Saraswati

Tag von Saraswati / Saraswatis Tag / Tag des Saraswati
Kenntnis ist sehr wichtig für Balinesen. Jeden Saniscara, Umanis, Wuku Watugunung feiern sie Saraswatis Tage, Tage der Kenntnis. Es wird auf Pawukons System (Balinesische Kalander) und Saniscara (der sieben tägige Zyklus) basiert.

Der Name „Saraswati“ kommt von „Saras“, das „fließen“ bedeutet, und „wati“, das „eine Frau“ bedeutet. Saraswati ist also das Symbol von Kenntnis, deren Fließen (oder Wachsen) wie ein Fluss ist; und Kenntnis ist sehr interessant wie eine schöne Frau.

Saraswati ist die Göttin von Kenntnis und wird von einer schönen Frau mit vier Händen symbolisiert, die auf einem weißen Schwan um die Wasserlilien reitet, um der Menschheit zu sagen, dass Kenntnis gleich wie eine schöne Frau ist. Ihre Hände halten ein Palmenblatt fest; ein Lontar, (ein balinesisches traditionelles Buch, das die Quelle von Kenntnis ist); eine Kette (Genitri mit 108 Stück), die symbolisiert, dass Kenntnis niemals beendet ist und einen ewigen Lebenszyklus hat; und ein Musikinstrument (Gitarre oder Wina), das symbolisiert, dass Wissenschaft durch Wachstum von Kultur entwickelt. Die Schwäne stellt die Klugheit dar, damit jemands Kenntnis zwischen gut und böse unterscheiden kann. Die Lotus sind die Symbole der Heiligkeit. Der Lotus ist für den Balinesen die Heiligste.

Am Nachmittag des Saraswatis Tage dürfen wir kein Buch schreiben oder lesen, weil alle Bücher angeboten werden. Am Abend, der „Malam Sastra“ oder „der Abend der Literatur“ genannt wird, lesen die Leute Bücher (besonders das Religionsbüchern) in ihren Häusern oder im Tempel.


Pengredanan (der Tag bevor Saraswati)
Der ist der Vorbereitungstag. Alle Bücher und Lontar werden gemeinsam gesammelt und sauber gemacht.

Tag des Saraswati
Die Saraswatis Tage selbst werden von den Balinesen gefeiert. Da bringen die Leute eine Sühneopfer zu ihrer heiligen Bücher und Rollenschrifte in ihren Häusern, und mittlerweile feiern Schüler Saraswati in der Schule, normalerweise am Morgen; und Beamte und Angestellter feiern das in ihrem Büro. Die Philosophie von Saraswatis Tage ist, dass Kenntnis die wichtigste Sache für das Leben des Menschs ist.

Banyu Pinaruh
Ein Tag nach dem Saraswati heißt Banyu Punaruhs Tag. „Banyu“ bedeutet Wasser und „Pinaruh“ bedeutet Weisheit. Anders gesagt, wir müssen Weisheit haben, die immer wie Wasser fließt und nützlich für die Menschen ist. Wir beten bei der Göttin Saraswati (die Manifestation von Gott), damit die Klugheit und die Weisheit uns gegeben werden. In der Regel müssen die Menschen ein Bad auf der See oder auf dem See oder Fluss nehmen, und traditionelle Medizin trinken, das aus verschieden Blätter von Pflanzen gemacht werden, das für die Gesundheit gut ist. Die Philosophie von Banyu Pinaruhs Tag ist, dass die zweit- wichtigste Sache für die Menschen die Gesundheit ist.

Soma Ribek
Zwei Tage nach Saraswati, am Soma (am Montag), Pon, Wuku Sinta, heißt Soma Ribeks Tage. „Soma“ bedeutet Montag, und „Ribek“ bedeutet voll. An diesem Tag bedanken sich die Balinese bei dem Gott für Essen und Getränk in ihrem Leben und betten zu der Göttin Sri (die Göttin des Wohlstands und der Manifestation), um Wohlstand zu bekommen. Diese Feier mahnt sie, damit ihr das Essen selektive auswählen und nicht zu viel essen, um ihre Gesundheit zu verbessern. Die Philosophie von Soma Ribek ist, dass die dritt-wichtigste Sache für das Leben der Menschen Essen und Getränke sind.

Sabuh Mas
Drei Tage nach Saraswati, am Anggara (oder Dienstag), Wage, Wuku Sinta, ist Sabuh Mas’ Tag. „Sabuh“ bedeutet Gürtel, und „Mas“ bedeutet Gold. An diesem Tag bringen die Balinesen die Opfergabe zu dem einzahlen Box / Kasten, oder zu dem Platz, wo sie ihre Schmucksachen aufbewahren. Sie bedanken sich zu dem Mahadewa (der Gott der Manifestation) für die Kleidung, das Geld, das Gold, usw. in unserem Leben. Diese Feier mahnt sie, damit sie beim Geld Ausgeben vorsichtigan sind. Die Philosophie von Sabuh Mas ist, dass die viert-wichtigste Sache in dem Leben des Mensches Kleidung, Gold, usw. sind.

Pagerwesi
Vier Tage nach Saraswatis, am Buda (oder Mittwoch), Kliwon, Wuku Sinta, heißt die Tage von Pagerwesi. „Pager“ bedeutet der Zaun und „Wesi“ bedeutet Eisen. Die Balinesen beten zu dem Sang Hyang Pramesti Guru (Gott von Manifestation) an diesem Tag. Alle Balinese müssen auf ihrem Sanggah (Tempel in ihrem Haus) und in den Tempeln opfern. Für den Balinesen ist diese die zweitgrößte Feier nach Galungan Tag. Die Philosophie von dieser Feier ist, dass sie die Kenntnis, Gesundheit, Essen, Kleidung und Gold in ihrem Leben bewachen müssen, damit das Universum in Bilanz bleibt.

von : I Wayan Andreas Dwipayana
es wird von Frau Dian (meine Deutsch Lehrerin) untergesucht

Saturday, October 20, 2007

Winter

Hari minggu tanggal 20 Oktober 2007, hari pertama turun salju d Tettnang Jerman..., hari ini, jam setengah delapan aq bangun dan d sambaut oleh salju,,, bener2 pagi yang indah.., pagi yang sangat special... tapi saljunya gk terlalu banyak dan cuma sebentar aj...

Hari ne, Sabtu 10 Nopember 2007, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, hujal Salju turun lagi,, kali ini salju yang turun lumayan banyak,, awalnya pada malam angin kenceng berhembus, kemudian pagi harinya mulai turun salju, dan agak banyak sehingga rumput dan jalan hampir tertutup salju semua...

---------------------------------------------------------------------------------------

Heute, Mittwoch, 26. März 2008 ist die Letzte Schnee gefallen. Da gibts stark schneit und stark wind, aber die Temperature ist ziemlich warm, ungefähr 1° bis 3° und das macht das Schnee zu schnell verflüssigen.
Die Deutsche hat mir gesagt, dieser Winter ist nicht so kalt und gibts nur einbischen Schnee, dafür habe ich kein Glück, weil ich kein richtige Winter erlebte. Das ist aber gegentail mit der Deutsche, dies Jahr haben sie viel Glück, weil bei ihnen Schnee immer die Erschwernis bringen ist. Als das Schnee gefallen, die Straße ist immer verschneit und danach glatt wird.

Friday, October 19, 2007

Makumpul

SEMBAHYANG DI SINGOSARI















Girang manah tityang
Ritatkala metemu sareng Sawitra

Risedek mekumpul...mekumpul...
pade megending...

*
*
*
*
*
*
*


Suatu saat kita pernah sendiri...
Suatu saat kita pernah bersama...
Semua itu pasti akan meninggalkan kenangan yang tak terlupakan...

Ini adalah foto mahasiswa dan mahasiswi hindu STAN dan VEDC angkatan tahun 2004, tiga mahasiswa dari VEDC dan selebihnya adalah mahasiswa STAN.

yach moga2 aj, dari blog ini temen-temen bisa mengingat kembali kenangan-kenangan yang terdahulu. Kalo ada yang mempunyai kenangan buruk, ya maaf aj ya... tapi walaupun itu kenangan buruk, temen-temen jangan pernah begitu saja melupakannya, karena dari sana mungkin temen-temen bisa mengambil hikmah hingga dapat membuat kenangan yang lebih indah dari kenangan-kenangan lainnya...

Doa Sebelum Belajar

Om Awighnam astu namo sidham

Om Bhur Bhuvah Svah
Tat savitur warenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhiyo yo nah pracodayat

Om Puvao jato brahmano brahmacari
Dharman vasanas tapa sodhatisthat
Tasmajatam brahmanam brahma jyestham
Devasca sarwe amrtena sakham

Om Ano bhadrah kratawo yantu wisvatah

Om Sidhir Astu tat astu astu swaha

Doa Selesai Belajar

Om Dewa suksma parama acintya ya namah swaha
Sarwa karya prasidhantam

Om Ong jaya jiwat sarira raksan dadasime

Om Mjum sah wausat mrtyum jaya namah swaha

Om Sidhirastu tat astu astu swaha

Om Çanti, Çanti, Çanti Om