Saturday, March 22, 2008

STAWA

ÇIWA STAWA

Om nama Çiwaya sarwaya
Dewa dewaya wai namah
Rudraya bhuwanasaya
Çiwa rupaya wai namah

Om Tvam çiwa twam maha dewa
Iswarah parameçwara
Brahma Wisnusca Rudrasca
Purusa parikirtitah

Om twam kalas twam yamo mrtyur
Warunasca twam kuwerekah
Indra surya çaçangkarah
Graha naksatra tarkah

Om pratiwi sariram twam hi
Twam agnir wayur evaca
Akaçam twam param sunyam
Skalam niskalam tatha

Om atheni sarwa karmanih
Ya karoti maha çiwa
Açuçirwa çuçirwapi
Sarwa kama gatot piwa
Cintayed dewanam çanam
Sabhahya bhayantara sucih

Om Sidhir astu tat astu astu swaha


TERJEMAHAN ÇIWA STAWA

Oh Sang Hyang Çiwa, Engkau yang kami puja sebagai bapak sejati yang Maha Suci,
Para dewa sungguh sujud kepadaMu,
Engkau kami puja sebagai Rudra, pengatur gerak alam semesta dan segala isinya,
Murti-Mu adalah Çiwa yang kami hormati

Oh Sang Hyang Çiwa, Engkau yang kami puja sebagai Mahadewa,
Engkau juga kami puja sebagai Iswara dan Parama Iswara,
Engkau juga kami puja sebagai Brahma, Wisnu dan Rudra,
Engkau adalah asal mula dari segala yang ada

Oh Sang Hyang Çiwa, Engkau kami puja sebagai Kala, Yama, Mrtyur,
Engkau juga kami puja sebagai Baruna dan Kuwera,
Engkau juga kami puja sebagai Indra, dan Surya,
Bulan, Planet-planet dan meteor ada dalam pelindung-Mu

Oh Sang Hyang Çiwa, engkau penggerak bumi, angin, eter,
Engkau berwujud hening dan sunyam

Oh Sang Hyang Çiwa, pekerjaan-Mu sungguh beraneka ragam,
Bapak yang Maha Besar penganugrah kemakmuran,
Pelebur segala cemar menjadi hening dan sunyi,
Engkau datang ke segala tempat sesuai dengan kehendak-Mu,
Berkenan kiranya Engkau menajamkan pikiran kami,
Sehingga lahir dan bathin kami menjadi suci


--------------------------------------------------------------------------------
SURYA STAWA

Om Radityasya paramjyotir
Rakta teja namastute
Sweta pangkaja madhyaste
Bhaskara ya namah swaha

Om Om chi surya sahasresu
Teja rase jagatpate
Anukam payam bhatyam
Gryha manam dewakara ya namo namastute

Om Hrang hring sah parama Çiwa Raditya ya namah

Om Hrang hring sah Surya ya namah

Om Hrang hring sah Çiwa Surya param teja swarupa ya namo namah swaha

Om Sidhirastu tat astu astu swaha


TERJEMAHAN

Oh Sang Hyang Surya, yang berwujud cahaya alam semesta,
Hamba memuja dengan pancaran sinar merah-Mu.
Engkau bersinggasana di tengah teratai putih,
Hamba memuja-Mu dengan gelar Sang Hyang Bhaskara, sumber segala cahaya.

Oh Sang Hyang Surya, yang bergerak bagai seribu matahari, penguasa inti segala cahaya, hamba memuja-Mu sebagai kumpulan sumber cahaya, sumber kebahagiaan hati, karena Engkau sumber terangnya hari.


--------------------------------------------------------------------------------
BHARUNA STAWA

Om Jalanidhi murti dewam,
Brahma Wisnu masariram
Ghoraya ghora ghurnitam
Rudra murti ghorantaram

Om Bharuna devam maha linggam
Naga raja ghorantaram
Bhujaga devam kruranam
Sarwa jagat asthityanam

Om Kurma Kurma devam
Naga rajam sakti viryam
Nanta bhogam ca salingam
Sarwa jagad prawaksyamam

Om Brahma Wisnu Içwaras ca
Agni mandala pradiptam
Surya koti prabavanam
Jagat triya namostute

Om Giri pati maha sakti
Ratnakara pravaksyanam
Rudra murti Kala murti
Sarwa jagat namostute

Om Naga raja Bharuna devam
Visnu masarira devam
Sarwa jagat viçudhanam
Sarwa vighna vinaçanam

Om Amrta sanjivani devam
Sudha sarira devatam
Dirgahayu jagat trayam
Sarwa papa vinaçanam

Om sidhir astu tat astu astu swaha


--------------------------------------------------------------------------------
CHANDRA STAWA

Om Chandra mandala sampurna
Chandra yam te pranamyate
Chandra dhipa paramjyotir
Namas chandra namostute

Om Sidhi raga namostute
Dara gopati padanam
Vimsat sapta taranvita
Namas chandra namostute

Om Karma saksi jagat caksu
Sarvabharana bhusita
Sveta panca kalaruna
Namas chandra namostute

Om Karma daksa jagat caksuh
Sarvabharana bhusita
Sveta panca kalaruna
Namas chandra namostute

Om Kumudotpala hastan ca
Sarvari dipa manggalam
Dharma dharmasayam pasyam
Namas chandra namostute

Om Loko yam te Prakasito
Loko puja samanvita
Siva lokam Chandradhipam
Namas chandra namostute

Om Asta disarame nityam
Asta dipa vasi karam
Asta kala sampurna
Namas chandra namostute

Om Sidhir astu tat astu astu swaha

SARASWATI PUJA

PUJA SARASWATI

Om Saraswati namostubhyam
Warade kama rupini
Sidhir astu karaksami
Sidhir bhawantu sadham

Om Pranamya sarwa dewanca
Paramãtma nama wanca
Rupa sidhi karoksabet
Saraswati nama myaham

Om padma patram wimalaksmi
Padma kçara nandini
Nityam padma laya dewi
Tubhyam namah Saraswati

Om Brahma putri maha dewi
Brahmanye Brahma nandini
Saraswati sajňna yani
Praya naya Saraswati

Om kawyam wyakaranam tarkham
Weda çastram puranakam
Kalpa sidhini tantrani
Twam prasadat karoksabet

Om sulabha twam swara mantra
Irabheyam phalakam param
Sarwa kleça winaçanam
Santhi twam sanggatot manam

Om atheni rasa hasranam
Sarwa roga winaçanam
Twam mama sarwa sidhyantu
Sarwa karya prasidhyaye

Om Sang Saraswati sweta warna ya namah swaha
Om Bang Saraswati rakta warna ya namah swaha
Om Tang Saraswati pita warna ya namah swaha
Om Ang Saraswati kresna warna ya namah swaha
Om Ing Saraswati wiçwa warna ya namah swaha

Om sukham bhawantu, purnam bhawantu, çryam bhawantu
Om Sidhirastu tat astu astu swaha



TERJEMAHAN SARASWATI PUJA

Oh Sang Hyang Saraswati, pujaan kami
Yang berwajah cantik, indah berandeng
Berkuasa mempengaruhi kami
Selalu berkuasa pada serba dunia

Oh Sang Hyang Saraswati, yang dihormati oleh semua dewa dewi
Karena engkau adalah brahman yang dimuliakan
Merupakan wujud yang kuasa
Kami muliakan Engkau dengan gelar Saraswati

Oh Sang Hyang Saraswati, Engkau suci bersih bagai daun bunga teratai
Berambut indah bagai sari bunga teratai
Selalu ada di sekitar padma
Patut dihormati sebagai sumber ilmu pengetahuan

Oh Putri Sang Hyang Brahma, Engkai dewi yang maha agung
Selalu ada bersama Brahma
Diberi gelar Saraswati yang indah
Mengatur semua mahluk

Oh Sang hyang Saraswati, Engkau mengubah segala ilmu tattwa
Weda dan Sastra, Purana-purana, serta ilmu Tantra
Yang menjiwai dan berkuasa sepanjang jaman
Engkaulah penciptanya

Oh Sang Hyang Saraswati, atas anugrahMu semoga doa kami menjadi bertuah,
Mendatangkan segala kebaikan untuk seluruh dunia
Semoga bathin yang cemar dan kotor menjadi musnah
Semoga damai dan bersatu bhatin kami kepadaMu

Oh Sang Hyang Saraswati, berkenan kiranya Engkau menganugrahi perasaan bathin yang indah, semoga yang menimbulkan penyakit menjadi musnah, berkenan kiranya engkau menganugrahi kami serba sejahtera, sehingga tugas karya kami terselesaikan

Oh Sang Hyang Saraswati, demikian puja kami kepadaMu, dalam prabhawaMu sebagai Sang Hyang Sadyajata, Sang Hyang Bhamadewa, Sang Hyang Tat purusha, Sang Hyang Aghora, serta dalam prabhawaMu sebagai Sang Hyang Içyana dengan pancaran warna putih, merah, kuning, hitam, serta serba warna


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DOA AWAL PELAJARAN

Om Awighnam astu namo sidham

Om Bhur Bhuvah Svah
Tat savitur warenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhiyo yo nah pracodayat

Om Puvao jato brahmano brahmacari
Dharman vasanas tapa sodhatisthat
Tasmajatam brahmanam brahma jyestham
Devasca sarwe amrtena sakham

Om Ano bhadrah kratawo yantu wisvatah

Om Sidhir Astu tat astu astu swaha


TERJEMAHAN

Oh Sang Hyang Widhi, atas waranugraha-Mu, semoga tiada rintangan

Oh Sang Hyang Widhi, Engkau yang menguasai Tri Bhuana ini,
Yang maha suci, sumber segala kehidupa, sumber segala cahaya
Semoga Engkau berkenan melimpahkan pada budi nurani kami
Sinar penerangan cahaya-Mu yang maha suci

Oh Sang Hyang Widhi, kami sisya-Mu hadir di hadapan-Mu berselimutkan doa
bakti, berdiri tegak sebagai pertapakalau sebentar lagi kami memulai
kegiatan belajar, berkenan kiranya Engkau menyinari kami, sehingga
kecerdasan, kebijaksanaan, serta ketentraman tiada hentinya ada pada kami

Oh Sang Hyang Widhi, atas segala waranugra-Mu, semoga pikiran yang baik
datang dari segala penjuru.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DOA AKHIR PELAJARAN

Om Dewa suksma parama acintya ya namah swaha
Sarwa karya prasidhantam

Om Ong jaya jiwat sarira raksan dadasime

Om Mjum sah wausat mrtyum jaya namah swaha

Om Sidhirastu tat astu astu swaha

Om Çanti, Çanti, Çanti Om


TERJEMAHAN

Oh Sang Hyang Widhi, puji syukur kami panjatkan atas segala bimbingan
dan waranugraha-Mu, sehingga kegiatan belajar ini dapat terselesaikan

Oh Sang Hyang Widhi, kalau sebentar lagi kami meninggalkan tempat ini untuk
pulang ke rumah masing-masing, berkenan kiranya engkau senantiasa
melindungi kami sehingga kami dapat tiba di rumah dengan selamat,
selanjutnya kami dapat mengerjakan tugas-tugas sebagaimana yang telah
Engkau gariskan.

Oh Sang Hyang Widhi, atas segala waranugraha-Mu
Semoga kedamaianlah yang senantiasa menyertai kami
Damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu

NITYA KARMA PUJA

NITYA KARMA PUJA
(DOA SEHARI-HARI)

o Bangun Pagi
Om Jagrasca prabhata kalasca ya namah swaha
“Oh Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, bahwa hamba telah bangun pagi dalam keadaan selamat”

o Membersihkan Diri
a. Cuci Tangan
Om Ang Argha dwaya ya namah
“Oh Hyang Widhi, semoga kedua tangan hamba bersih”

b. Cuci Kaki
Om Pang pada dwaya ya namah
“Oh Hyang Widhi, semoga kedua kaki hamba bersih”

c. Berkumur
Om Jang Jihwaya ya namah
“Oh Hyang Widhi, semoga mulut dan lidah hamba bersih”

o Menggosok Gigi
Om Sri Dewi Bhatarisma yogini ya namah
“Oh Hyang Widhi, dalam wujud Dewi Sri Bhatarisma Yogini, semoga gigi hamba bersih”

o Mandi Siram Badan
Om Gangga amerta ya namah
Om sarira parisudha mam swaha
“Oh Hyang Widhi, semoga air ini memberi kehidupan dan badan hamba menjadi bersih”

o Keramas
Om Ganga namurteya namah
Om Gring Çiwagriwa ya namah
“Oh hyang widhi, semoga air ini menjadi amerta dan membersihkan segala kotoran kepala hamba”

o Yadnya Sesa / Ngejot
 Sehari-hari selesai masak atau mau makan (di taruh di pinggir piring)
Om Sarwa bhuta sukha pretebhyah swaha
“Oh Hyang Widhi, semoga para bhuta kala senang menikmati makanan ini dan sesudahnya supaya tidak menggagu”

o Mulai Makan / Menyuao Makanan
Om Anugraha Amrtadi sanjiwani ya namah swaha
“Oh Hyang widhi, semiga makanan ini menjadi amerta yang menghidupkan hamba”
o Sesudah Makan
Om Dirghayur astu, awighnam astu, çubham astu
Om Sriyam bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu, ksama sampurna ya namah swaha
Om Santi, Santi, Santi Om

o Memulai Pekerjaan
Om Awighnam astu namo sidham
Om Sidhirastu tad astu astu swaha
“Oh Hyang Widhi, semoga tiada aral melintang”
“Oh Hyang Widhi, hormat kami semoga semua berhasil baik”

o Selesai Pekerjaan
Om Dewa suksma Parama acintya ya namah swaha
Sarwa karya prasidhantam
Om Santi, Santi, Santi Om

o Membuka Pertemuan / Rapat
Om sam gacchadwam, sam vadadwam
Sam we manamsi janatam
Dewo bhagam yatha purwe
Samjanana upasate
Om samani wa akutih, samanna hrdayaniwah
Samanamastu wo mano yata wah susahasati
Om ano bhadrah kratawo yantu wiswatah

Terjemahan
Oh Hyang Widhi, kami berkumpul di tempat ini, hendak bebbicara satu sama yang lain untuk menyatukan pikiran sebagaimana halnya para Dewa selau bersatu.
Oh Hyang Widhi, tuntunlah kami agar sama dalam tujuan, sama dalam hati, bersatu dalam pikiran hingga dapat hidup bersamadalam keadaan sejahtera dan bahagia.
Oh Hyang Widhi, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

o Menutup Rapat
Om mantrahinam kriyahinam, bhakti-hinam Parameswara
Tad pujitam Mahaewa, paripurna tad astu me
Om dhirghayur nirwighnam sukha wrdhi nugrahakam

Terjemahan
Oh Hyang Widhi, doa kami kurang, perbuatan kami tiada sempurna, bhakti kami juga tiada sempurna, untuk itu kami memuja-Mu Iswara yang agung, semoga dapat menganugrahkan kesempurnaan / kemampuan melakukan kewajiban.
Oh Hyang Widhi, semoga kami senantiasa sukses tanpa halangan dan memperoleh kebahagiaan.

PUJA TRI SANDHYA

PUJA TRI SANDHYA
--------------------------

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PUJA TRI SANDHYA

Om bhur bhuvah svah
Tat savitur warenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhiyo yo nah pracodayat

Om Narayana ewedam sarvam
Yad bhutam yaça bhavyam
Niskalanko niranjano nirvikalpo
Nirakhyatah suddho devo eko
Narayana na dvityo’sti kaçcit

Om Tvam Siva tvam maha devah
Isvarah paramesvara
Brahma Visnusca Rudrasca
Purusah parikirtitah

Om Papo ham papa karmaham
Papatma papasambhavah
Trahi mam pundarikaksah
Sabahyabhyantarah sucih

Om Ksamasva mam mahadevah
Sarwaprani hitankarah
Mam moca sarvah papebyah
Palayasva Sada Siva

Om Ksantavyah kayika dosah
Ksantavyo wacika mama
Ksantavyo manasa dossah
Tat pramadat ksamasva mam

Om Çanti, Çanti, Çanti Om


TERJEMAHAN PUJA TRI SANDHYA

Oh Sang Hyang Widhi, penguasa Tri Bhuana ini, Yang maha suci, sumber segala kehidupan, sumber segala cahaya, semoga Engkau berkenan melimpahkan pada budi nurani kami,sinar penerangan cahaya-Mu yang Maha suci.

Oh Sang Hyang Paramakawi, dari Engkaulah segalanya ini berasal dan kembali nantinya, baik yang telah ada maupun yang akan ada di alam raya ini. Engkau Maha Gaib mengatasi segala ketidak tahuan, tidak termusnahkan, Maha cemerlang, Maha Suci, Maha Esa dan sama sekali tiada duanya.

Oh Sang Hyang Widhi, Engkau kami puja sebagai Çiwa, Mahadewa, Iswara dan Parama Iswara, Engkau juga kami puja sebagai Brahma, Maha Pencipta, sebagai Wisnu, Maha Pengasih dan Maha Pelindung. Engkau juga kami puja ssbagai Rudra, jalan akhir dari setiap mahluk. Engkau asal mula dari segala yang ada, demikianlah Engkau senantiasa kami puja selalu.

Oh Sang Hyang Widhi, kami ini penuh dengan kenistapaan, perbuatan kami nestapa, jiwa kami nestapa, bahkan kelahiran kamipun penuh dengan kenistapaan. Berkenan kiranya Engkau menyelamatkan kami dari segala kenistapaan ini. Semoga disucikan lahir dan bhatin kami.

Oh Sang Hyang Widhi, berkenan kiranya Engkau mengampuni kami, Engkau yang kami puja sebagai Mahadewa, penyelamat segala mahluk. Berkenan kiranya Engkau melepaskan kami dari segala kenistapaan, membimbing kami, menuntun kami, serta melindungi kami, Oh Hyang Widhi, Engkau yang kami puja sebagai Sada Siwa yang Maha Suci.

Oh Sang Hyang Widhi, berkenan kiranya Engkau mengampuni kami atas segala dosa-dosa karena perbuatan kami, dosa-dosa karena perkataan kami, dosa-dosa karena pikiran kami serta dosa-dosa atas segala kelalaian kami.
Oh Sang Hyang Widhi, atas segala bimbingan dan Waranugraha-Mu semoga kedamaianlah yang senantiasa menyertai kami, Damai di hati, Damai di dunia, Damai selalu.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
MUSPA / KERAMANING SEMBAH

1. Sembah puyung / tangan kosong
Mantram:
Om atma Tattwatma Suddhamam swaha

2. Permohonan upasaksi, ditujukan pada Sang Hyang Raditya dengan bunga putih
Mantram:
Om Adityasyaparam jyoti, rakta teja namos’stute
Sweta pangkaja madhyastha, bhaskara ya namo stute

Om Pranamyam bhaskaram dewam sarwa klesa winasanam
Parama ditya siwartam bhukti mukti waram pradam

Om Hrang hring sah parama Çiwa raditya yanamah swaha

3. Permohonan kerahajengan jagat, ditujukan kepada Sang Hyang Samodhaya dengan bunga merah
Mantram:
Om Namah dewa adhisthanaya, sarwa wyapi waisiwaya
Padmasana eka pratisthaya, ardhanareswaryai namah swaha

Om Brahma Wisnu Iswara dewam, jiwatmanam trilokanam
Sarwa jagat pratisthanam sarwa rogawimorcitam sarwa
Rogawinasanam wighna desa winasanam

Om namoh siwaya

4. Permohonan warabugraha dengan kewangen
Mantram:
Om Anigraha manohara dewadattanugrahaka
Arcanam sarwa pujanam, namah sarwanugrahka
Dewa dewi maha sidhi yajňanga nirmalatmaka
Laksmi siddhircadhirghahayu, Nirwighna sukha wrddhisca

Om Gring anugraha arcana ya namo namah swaha
Om Gring anugraha manuhara ya namo namah swaha

Ayur werdi yaso werdi
Wredir pradnya sukha sriyam
Dharma santana wredisca
Santute sapta wredayah

Yatta meru sthita dewa
Yawat gangga mahe tale
Candrakau ganggane tawat
Tattwatma wijayam bhawat

Om Dhirgahayu astu tat astu astu swaha

Om Awighnam astu tat astu swaha

Om Subhamastu tat astu astu swaha

Om Sukham bhawantu purnam bhawantu sriyam bhawantu
Sapta werdhi astu tat astu astu swaha

Antyestih parama pindam
Antyestih dewa mersittah
Sarwestih eka stanawa
Sarwa Dewa sukha pradana
Ya namo namah swaha

5. Sembah puyung
Mantram:
Om Dewa suksma paramacintya ya namah swaha

Saturday, January 5, 2008

Siwa Ratri

Hari Raya Siwa Ratri

Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa terdiri dari dua unsur yang utama yaitu purusa dan pradana atau unsur kejiwaan dan unsur kebendaan.

Purusa adalah jiwa yang penuh kesadaran karena bersumber dari atman. Atman berasal dari Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Pradana adalah unsur material yang menjadi dasar jasmani terdiri dari lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara dan angkasa). Karena itu Bhagavadgita menyebutkan, manusia memiliki dua kecenderungan yaitu kecenderungan kede-waan atau dewa sampad dan kecenderungan keraksasaan atau asura sampad. Kedua kecenderungan itu bisa silih berganti muncul setiap saat menguasai manusia.

Jika kecenderungan kedewaan yang menguasai manusia, ma-ka segala perbuatannya selalu berdasarkan pada sreya karma. Sreya karma mengarahkan perbuatan yang selalu berdasarkan dharma, karena didorong oleh kesadaran. Kesadaran itu adalah penguasaan indria oleh pikiran dan pikiran oleh budhi yang disinari pancaran suci atman. Sebaliknya, kalau kecenderungan keraksasan yang menguasai diri manusia, maka segala perbuatan manusia selalu didasarkan oleh wisaya karma. Wisaya karma mengarahkan manusia berbuat di luar dharma bahkan bertentangan dengan dharma. Perbuatan itu semata-semata didorong wisaya atau hawa nafsu semata.

Sreya karma mengarahkan perbuatan yang disebut subha karma (perbuatan baik) dan wisaya karma mengarahkan perbuatan yang disebut asubha karma (perbuatan yang penuh dosa). Manusia tentu harus menghindari perbuatan yang penuh dosa. Untuk mengetahui perbuatan dosa dan perbuatan yang sesuai dengan dharma dapat dilihat contohnya dalam Itihasa dan Purana. Dalam Mahabharata, Pandawa di bawah tuntunan Sri Krishna selalu berbuat dengan penuh pertimbangan dharma. Sebaliknya Korawa, saudara sepupu Pandawa, berbuat atas dasar dorongan hawa nafsu keduniawian saja. Contoh perbuatan yang baik dan buruk, juga bisa kita temukan dalam Ramayana. Sri Rama selalu bertindak di atas pertimbangan dharma. Sedangkan Rahwana selalu bertindak berdasarkan doro-ngan hawa nafsu yang menyimpang sama sekali dengan dharma.

Berbuat yang selalu berdasarkan dharma tidak segampang membalik telapak tangan. Tantangan atau godaan acapkali menghadang, sehingga untuk melakukan kebajikan itu, harus berani menanggung derita, bahkan mempertaruhkan nyawa. Satu hal yang perlu diingat adalah, agar dapat selalu berbuat berdasarkan dharma, maka harus selalu memelihara kesadarannya.

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memu-satkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut "malam kesadaran" atau "malam pejagraan", bukan "malam penebusan dosa" sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekauatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri se-sungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa dise-butkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Sumber Ajaran Siwa Ratri

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah pendeta di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak 1966, Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Dalam Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebutlah, dikisahkanlah seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat kesa-darannya bangkit, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

Dalam Skanda Purana dituturkan percakapan seseorang bernama Lomasa dengan para rsi. Lomasa menuturkan kejahatan orang bernama Canda yang suka membunuh, dari membunuh binatang sampai brahmana. Namun setelah melakukan tapa brata Siwa Ratri, Canda yang jahat itu akhirnya sadar akan segala perbuatan dosanya dan baru memahami kebenaran. Canda akhirnya menjadi orang suci dan bisa bersatu dengan Tuhan. Dalam Skanda Purana, juga disebutkan tentang tata-cara dan asal-mulanya dilangsungkan upacara Siwa Ratri tersebut.

Sumber Sanskerta yang lain, yaitu Garuda Purana memaparkan upacara Siwa Ratri lebih singkat. Di situ dituturkan tentang Sang-hyang Siwa yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari itrinya (saktinya) yaitu Dewi Parwati. Dewi Parwati bertanya, di antara pelaksanaan brata, apa yang paling utama dilaksanakan agar men-capai kesadaran tinggi tentang nilai hidup Ketuhanan. Sanghyang Siwa menjawab, brata yang paling utama adalah brata Siwa Ratri. Sanghyang Siwa juga menjelaskan tenatang tata-cara brata Siwa Ratri tersebut.

Selain itu, dikisahkan pula seorang raja bernama Sundara Senaka yang berwatak jahat dan kasar. Raja yang disertai anjingnya selalu berburu ke hutan membunuh binatang. Selain itu, beliau juga suka menghamburkan hawa nafsu birahinya. Namun setelah melakukan brata Siwa Ratri, beliau sadar akan semua perbuatan dosanya. Kemudian sang raja meninggalkan kebiasaan buruknya itu, untuk kembali berpegang teguh ke jalan dharma.

Akan halnya dalam Padma Purana, brata Siwa Ratri termuat di bagian Uttarakanda. Di situ dikisahkan dialog Raja Dilipa dengan Rsi Wasistha. Rsi agung ini menjelaskan kepada Dilipa bahwa brata Siwa Ratri adalah brata yang sangat utama. Pelaksanaannya agar dilakukan pada bulan magha dan palguna. Dalam kitab ini dikisahkan seorang pemburu bernama Nisada yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Lubdhaka (dalam bahasa Sanskerta, lubdhaka artinya pemburu). Suatu hari, ketika Nisada berburu ke dalam hutan, ia kemalaman. Untuk menyelamatkan diri dari ancaman binatang buas, ia berlindung di atas pohon — yang kebetulan pohon bila. Di bawah pohon itu, ada sebuah telaga. Agar tidak ngantuk dan tertidur (jika tertidur tentu akan jatuh), Nisada memetik-metik daun pohon dan dijatuhkannya pada telaga. Kebetulan di telaga itu ada sebuah lingga Siwa yang terbuat dari kristal. Lingga itulah yang kena daun pohon. Lagi pula, malam itu adalah Purwani Tilem Kepitu atau sehari sebelum tilem ketujuh (tilem yang paling gelap di antara 12 tilem).

Sentuhan daun bila oleh Nisada dipandang sebagai persem-bahan oleh Sanghyang Siwa. Nisada dipandang telah sadar akan dosa-dosa yang pernah dibuatnya. Karena itu, Sanghyang Siwa menerima Nisada di Siwaloka, setelah badan jasmani pemburu itu meninggal. Para peneliti menyimpulkan, Padma Purana inilah yang menjadi sumber karya sastra yang memuat tentang Siwa Ratri yang tersebar di Indonesia.

Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan ber-dasarkan nista, madya, utama. Bentuk pelaksanaan pada tingkat nista dilaksanakan dengan jagra. Jagra artinya sadar. Kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melaksanakan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktivitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama, seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, "Nitya majapa maradina sarira," artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan dhyana dalam kitab Sara-samuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa.

Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan. Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakna simbolis untuk memacu, tumbuhnya kesadaran budhi yang sebenarnya.

Bentuk pelaksanaan Siwa Ratri pada tingkat madya adalah dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti "kembali suci." Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indria melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan. Latihan upawasa ini melahirkan sikap yang tidak tergantung pada makanan yang enak. Tubuh mem-butuhkan makanan yang sehat dan bergizi bukan yang enak.

Upawasa dilaksanakan dengan tidak boleh makan dan minum dari pagi hari saat matahari terbit pada panglong 14 sampai besoknya pada Tilem sasih Kepitu saat matahari terbenam. Upawaca Siwa Ratri dilaksanakan selama 36 jam penuh. Upawasa ini dapat dilakukan sampai bepergian ke luar rumah misalnya sambil titra yatra. Ini bedanya dengan upawasa Nyepi yang hanya dilakukan di tempat, tidak boleh bepergian.

Pelaksanaan brata Siwa Ratri yang paling utama bersumber dalam sebuah kekawin berbahasa Jawa Kuna yang bernama Siwa Rarti Kalpa buah cipta dari Mpu Tanakung.

Menurut Worsley, salah seorang peneliti sastra Jawa Kuna, bagian-bagian tertentu dari kekawin Siwa Ratri Kalpa merupakan terjemahan dari kitab Padma Purana Sansekertia.

Kakawin Siwa Ratri Kalpa ini di Bali terkenal dengan kakawin Lubdhaka. Kakawin itu merupakan terjemahan dari bagian Utarakanda dari Padma Purana. Dalam Padma Purana nama si pemburu adalah Nisada sedangkan dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa si pemburu bernama Lubdhaka. Nama Nisada tidak dijumpai dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Lubdhaka dalam Padma Purana bukanlah nama, tetapi artinya pemburu. Kalau boleh disimpulkan kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah terjemahan bebas dari Padma Purana kedalam sastra Jawa Kuna.

Kesimpulan ini menggambarkan bahwa para ilmuan, sastrawan dan rokhaniawan Hindu di masa lampau telah demikian mahir berbahasa Sansekerta. Tanpa pengetahuan dan penguasaan bahasa Sansekerta yang kuat tidak mungkin Mpu Tanakung mampu menyusun kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Tentang Mpu Tanakung, Prof. DR. Purbacaraka pernah menduga bahwa Mpu Tanakung adalah seorang pegawai yang hidup pada zaman Ken Arok memerintah di Jawa Timur. Purba-caraka juga berpendapat bahwa Mpu Tanakung mengarang kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah untuk mengambil hati raja Ken Arok orang yang pernah sebagai perampok dan merebut istri rajanya sendiri yaitu Tunggul Ametung.

Prof. Zoetmulder dan Prof. A. Teuw, keduanya peneliti sastra Jawa Kuna yang tersohor, mendapatkan kesimpulan yang amat berbeda dengan pendapat Prof. DR. Purbacaraka. Mpu Tanakung bukanlah seorang sastrawan yang hidup pada zaman Ken Arok. Mpu Tanakung adalah seorang Rakai yang hidup pada zaman Majapahit akhir, yaitu antara tahun 1466-1478 M. Itu berarti sekitar dua setengah abad setelah pemerintahan Raja Ken Arok. Ke-simpulan ini ditarik berdasarkan hasil penelitian "Waringin Pitu" yang berangka tahun 1447 M dan prasasti Pamintihan berangka tahun 1473 M.

Kedua prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Singawikrama yang mempunyai nama kecil Suraprabhawa. Nama Suraprabhawa inilah yang tercantum dalam menggala kekawin Siwa Ratri. Tujuan Mpu sebagai seorang yang suci atau pendeta mengarang kekawin Siwa Ratri Kalpa adalah untuk menyebar luaskan ajaran brata Siwa Ratri sebagai ajaran Hindu yang amat utama. Tidaklah mungkin seorang Mpu yang suci menjilat sekali pun kepada rajanya sendiri.

Dalam tradisi Hindu orang suci seperti Mpu mendapat kedudukan yang sejajar dengan seorang raja dalam fungsi yang berbeda.

Oleh karena itu Empu Tanakung dapat diyakini seorang, tokoh agama yang menyebarkan ajaran suci agama Hindu termasuk ajaran Siwa Ratri.

Dapat dipastikan pula Empu Tanakung adalah seorang sastrawan spiritual yang ahli bahasa Sansekerta dan ahli bahasa Jawa Kuna. Kemahiran beliau dalam dua bahasa inilah yang menyebabkan beliau dapat dengan mudah mendalami tatwa-adyatmika yang terdapat dalam sastra-sastra Hindu seperti ajaran Siwa Ratri dalam Padma Purana.

Di Bali ajaran Siwa Ratri disebarkan dalam berbagai bentuk. Di Bali terdapat lontar yang menguraikan keutamaan brata Siwa Ratri seperti Geguritan Lubdhaka dan Lontar Lubdhaka Caritra. Kedua lontar itu terdapat dalam koleksi lontar Fak. Sastra Unud Denpasar. Di Gedung Kertya terdapat lontar Aji Brata yang juga menguraikan keutamaan brata Siwa Ratri.

Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.

Tata pelaksanaan brata Siwa Rarti telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984. Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.

Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari "Catur Dasi Krsna Paksa" bulan Magha yaitu panglong ping empat belas sasihkapitu.

Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan "kesadaran diri" (atutur ikang atma rijatinia). Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa, monabrata dan jagra.

Mona artinya berdiam diri tidak bicara. Mona artinya bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan me-lakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermaanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya "positif energi" untuk menggeser "parasit energi."

Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan, ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir bathin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista madya utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi ber-sungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

Thursday, November 1, 2007

Teman Sejati

Buat Teman
1. Sekurang-kurangnya ada 5 orang dalam dunia yang menyayangi Anda dan sanggup mati karena Anda.
2. Sekurang-kurangnya ada 15 orang dalam dunia ini yang menyayangi Anda dalam beberapa cara.
3. Sebab utama seseorang membenci Anda adalah karena dia ingin menjadi seperti Anda.
4. Senyuman dari Anda boleh membawa kebahagiaan kepada seseorang, walaupun dia tidak menyukai Anda.
5. Setiap malam ada seseorang mengingat Anda sebelum dia tidur.
6. Anda amat bermakna dalam hidup seseorang.
7. Kalau bukan karena Anda,seseorang itu tidak akan hidup bahagia.
8. Anda seorang yang istimewa dan unik.
9. Seseorang yang Anda tidak ketahui menyayangi Anda.
10. Apabila Anda membuat kesalahan yang sangat besar, ada hikmah dibaliknya.
11. Sekiranya Anda merasa d ipinggirkan, pikirkan dahulu; mungkin Anda yang meminggirkan mereka.
12. Apabila Anda berpikir tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan sesuatu yang Anda ingini, mungkin Anda tidak akan memperolehnya, tetapi jika Anda percaya pada diri sendiri lambat laun Anda akan memperolehnya.
13. Kenanglah segala pujian yang Anda terima. Lupakan segala caci maki.
14. Jangan takut untuk meluapkan perasaan Anda; Anda akan merasa senang bila seseorang mengetahuinya.
15. Sekiranya Anda punya sahabat baik, ambillah waktu untuk memberitahunya bahwa dia adalah yang terbaik. Hanya semenit diperlukan untuk mendapat sahabat baik, sejam untuk menghargainya, sehari untuk teman tetap paling setia. Walaupun punya harta yang banyak, teman tetap paling berharga.

Sunday, October 21, 2007

Dharma


Was ist Dharma?
Abgelegt unter Hinduismus

Nach hinduistischer Anschauung sind sowohl das Universum im Großen wie auch die Gesellschaft im Kleinen Teil eines geordneten Ganzen. Dieses manifestiert sich im Dharma, das man quasi als Weltgesetz bezeichnen kann. Es regelt nicht nur Rechte und Pflichten aller belebteb Wesen, sondern ist auch der Unterbau des Kastensystems.

Dharma (Sanskrit, m., धर्म, dharma) bezeichnet Sitte, Recht und Gesetz, ethische und religiöse Verpflichtungen, auch Ausdruck für Moral, im englischen oft einengend mit Religion übersetzt. Es handelt sich um einen der zentralen Begriffe des Hinduismus. Dharma, die hinduistische Ethik, bestimmt das Leben eines Hindu in vielfältiger Art und Weise. Persönliche Gewohnheiten, soziale und familiäre Bindungen, Fasten und Feste, religiöse Rituale, Gerechtigkeit und Moral, oft sogar die Regeln der persönlichen Hygiene und Essenszubereitung werden durch den Dharma bestimmt. Die Beachtung ist für Hindus nicht nur Voraussetzung für soziales Wohlergehen, sondern auch für die persönliche Entwicklung.
Von der Erfüllung des Dharma hängt das Karma ab, die aus den Taten des Individuums entstandenen Resultate (Ursache und Wirkung). Im Gegensatz zu anderen Weltreligionen haben Hindus jedoch keinen bestimmten, allgemein gültigen Kodex, keine bestimmte Sammlung von Gesetzen, die für alle gleichermaßen verbindlich wären, wie etwa die Zehn Gebote der Christen.

Woher kommt der Name Hinduismus?
Abgelegt unter Hinduismus

Der Name leitet sich von der iranischen Bezeichnung für den Fluss Indus her, ein Hinweis auf den Ursprung dieser Religion und die zentrale Bedeutung der Flüsse. Der Indus beherrscht den westlichen Teil Nordindiens.

Hinduismus ist eine alte Religion, nicht aber der Name Hindu. Die eigentlichen Namen sind sanaatana dharma (sanskrit:ewige disziplin), dass hier Disziplin und nicht Religion meint. Wirklicher Hinduismus kann nicht als Religion definiert verden . Weil der Hinduismus in erster Linie einen Rahmen darstellt, in welchem viele Philosophien mit konstruktivem Dialog Platz haben.

Quelle:
http://www.religion24.net/artikel/

Doa Sebelum Belajar

Om Awighnam astu namo sidham

Om Bhur Bhuvah Svah
Tat savitur warenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhiyo yo nah pracodayat

Om Puvao jato brahmano brahmacari
Dharman vasanas tapa sodhatisthat
Tasmajatam brahmanam brahma jyestham
Devasca sarwe amrtena sakham

Om Ano bhadrah kratawo yantu wisvatah

Om Sidhir Astu tat astu astu swaha

Doa Selesai Belajar

Om Dewa suksma parama acintya ya namah swaha
Sarwa karya prasidhantam

Om Ong jaya jiwat sarira raksan dadasime

Om Mjum sah wausat mrtyum jaya namah swaha

Om Sidhirastu tat astu astu swaha

Om Çanti, Çanti, Çanti Om